BUDAYA SEBAGAI SARANA KEMAJUAN DAN SEBAGAI ANCAMAN BAGI HIDUP MANUSIA
Hai Sobat Salam semua... semoga makalah ini berguna bagi sahabat semua ea... :)Berikut adalah contoh MAKALAH yang benar:
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pendahuluan
Dua kekayaan manusia yang paling
utama adalah akal dan budi yang lazim disebut pikiran dan perasaan.
Di satu sisi akal dan budi atau
pikiran dan perasaan tersebut telah memungkinkan munculnya tuntutan-tuntutan
hidup manusia yang lebih daripada tuntutan-tuntutan hidup manusia yang lebih
daripada tuntututan makhluk hidup lain. Bila diteliti jenis maupun ragamnya sangat banyak, namun
yang pasti semua itu hanya untuk mencapai kebahagiaan.
Dari sisi akal dan budi memungkinkan
munculnya karya-karya manusia yang sampai kapanpun tidak pernah akan dapat
dihasilkan oleh makhluk lain. Cipta, karsa dan rasa pada manusia sebagai buah
akalnya terus melaju tanpa henti-hentinya berusaha menciptakan benda-benda baru
untuk memenuhi hajat hidupnya; baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Dari
proses inilah maka lahir apa yang disebut kebudayaan. Jadi kebudayaan
hakikatnya tidak lain adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi
manusia.
Kebudayaan yang dihasilkan oleh olah
pikir akal manusia, membawanya kepada sarana kemajuan sesuai dengan tuntutan
zaman dan kebutuhan dalam hidupnya. Namun di sisi lain, kebudayaan yang
dihasilkannya merupakan sebuah ancaman bagi kelangsungan hidupnya.
B.
Tujuan/Manfaat
1. Memahami
pengertian kebudayaan.
2. Mengerti
tentang budaya yang merupakan sarana kemajuan.
3. Mengidentifikasikan
budaya sebagai ancaman bagi kehidupan manusia.
4. mendeskripsikan
budaya dalam membutuhkan etika.
BAB IIBUDAYA SEBAGAI SARANA KEMAJUAN DAN
SEBAGAI ANCAMAN BAGI HIDUP MANUSIA
A.
Pengertian
Kebudayaan
Kebudayaan = cultuur (bahasa Belanda) = culture (bahasa Inggris) berasal dari perkataan Latin “Colere” yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.
Dilihat dari sudut bahasa Indonesia,
kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “Buddhiyah”, yaitu bentuk jamak dari
budhhi yang berarti budi atau akal. Dalam studi Antropologi dan sosiologi akan
ditemukan sejumlah pengertian kebudayaan yang sering berbeda satu dengan yang
lainnya. Sebagai contoh, Selo Sumarjan dan Sulaiman Sumardi, sebagaimana
dikutip oleh Oemar Hamalik merumuskan bahwa kebudayaan adalah hasil karya, rasa
dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan
kebendaan; rasa meliputi jiwa manusia yang diwujudkan dalam norma-norma dan
nilai-nilai; dan cipta merupakan pikiran orang-orang dalam hidup bermasyarakat.
Menurut Maurice Boyd dan Donald Worcerter, kebudayaan adalah seluruh lingkungan sosial yang dibuat oleh manusia. Dalam arti yang paling sempit, kebudayaan dipandang sebagai unsur-unsur yang abstrak, tidak dapat diamati dengan panca indra dan bersifat nonmaterial seperti cita-cita, kepercayaan, nilai, sikap dan pola kelakukan. Benda-benda material bukanlah kebudayaan, melainkan produksi dari kebudayaan, seperti teknologi, dan hanya merupakan aspek esensial dari kebudayaan, yaitu sebagai alat untuk menguasai dan mengubah alam untuk kepentingan manusia.
Adapun ahli Antropologi lain
memberikan definisi kebudayaan secara sistematis dan ilmiah, seperti E.B. Tylor
dalam buku yang berjudul “Primitiver Culture”, bahwa kebudayaan adalah
keseluruhan komplek, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain
serta kebudayaan, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota
masyarakat.
Definisi-definisi di atas
kelihatannya berbeda-bedam namun semuanya berprinsip sama, yaitu mengakui
adanya ciptaan manusia, meliputi perilaku dan hasil kelakuan manusiam yang
diatur oleh tatakelakuan yang diperoleh dengan belajar yang semuanya tersusun
dalam kehidupan masyarakat.
Di dalam masyarakat kebudayaan
sering diartikan sebagai the general body of arts, yang meliputi seni sastra,
seni musik, seni pahat, seni rupa, pengetahuan filsafat atau bagian-bagian yang
indah dari kehidupan manusia. Akhirnya, kesimpulan yang didapat bahwa
kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup.
Segala sesuatu yang diciptakan manusia baik yang konkrit maupun yang asbtrak,
itulah kebudayaan.
B. Budaya sebagai Sarana Kemajuan
Pada
abad ke-19 Filsuf Hegel membahas budaya budaya sebagai keterasingan manusia
dengan dirinya sendiri. Dalam berbudaya manusia tak menerima begitu saja apa yang
disediakan oleh alam, tetapi ia harus mengubahnya dan mengembangkannya lebih lanjut.
Dengan berbuat demikian, akan terjadi jurang antara manusia dengan dirinya. Itulah
yang dimaksud dengan keterlepasan dan keterasingan yang menyebabkan terjadinya
ketegagan yang terus-menerus.
Van
Peursen berusaha menjelaskan hal yang tampak serba bertentangan itu. Ia berkata
“Dengan mengembangkan alam, manusia memasukkan alam ke dalam dirinya sendiri.
Hal ini hanyalah dimungkinkan apabila ia sadar bahwa dirinya berada diluar
alam. Karena manusia tidak secara otomatis menyatukan dirinya dengan alam
(tetapi) melalui berbagai sarana), ia pun berbudaya. Dengan demikian, manusia
mampu mmbuat ketegangan dengan alam dari ketegangan itu meletupkan api budaya. Budaya
memasukkan dunia ke dalam wilayah manusia, lalu menyebabkan dunia menjadi manusiawi.
Akibatnya, manusia mengelolah tanah, membangun rumah dan kuil, mempelajari
gerakan bintang dan edaran musim. Singkatnya dunia menjadi halaman gerak
manusia. Semua mendorong manusia untuk membuat jarak dengan alam berarti menjablok
alam dalam diri manusia.
Setiap bangsa dan negara selalu
berusaha untuk bisa menciptakan sarana-sarana kemajuan dengan melakukan
berbagai upaya. Jadi, manusia dalam hal ini dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :
-
Memelihara,
melestarikan dan mengembangkan sumber daya alam
-
Pemanfaatan
sumber daya manusia
Sumber
daya manusia sebagai potensi untuk mencapai kemajuan atau kesejahteraan suatu
bangsa, memang sangat diperlukan, asalkan jumlahnya tidak melebihi kapasitas
sumber daya alam.
Agar budaya secara spesifik dapat dikatakan sebagai
sarana kemajuan, beberapa hal yang terkait berikut ini, yaitu:
1. Meningkatkan Produktivitas Tenaga Kerja
Produktivitas
tenaga kerja diukur melalui output yang dihasilkan oleh tenaga kerja tertentu.
Kemajuan teknologi merupakan salah satu ciri untuk meningkatkan
produktivitas, di sisi lain yaitu penambahan modal dan tenaga kerja.
Menurut
Arifin Chaniago (1987), ada beberapa kesempatan kerja :
a. Full employment (kesempatan kerja
penuh), terwujud apabila dalam masyarakat tersedia sejumlah pekerja yang cukup
sehingga orang-orang mampu dan mau bekerja dapat memperoleh pekerjaan menurut
syarat-syarat yang berlaku
b. Disquised unemployment, pengangguran
terselubuh yang disebabkan pekerja tidak bekerja secara maksimal, akibat
prestasi kerja berkurang.
c. Under employment, (kesempatan kerja
berkurang) hal ini terjadi apabila dalam masyarakat belum tersedia lapangan
kerja yang cukup
d. Unemployment, yaitu apabila orang
sulit untuk memperoleh pekerjaan menurut syarat-syarat yang berlaku.
2.
Meningkatkan
Usaha Pendidikan
Atas dasar kebutuhan sumber daya
manusia yang berkemampuan/keterampilan dan cakap maka usaha-usaha pendidikan
dewasa ini tidak sekedar sebagai dorongan tanggung jawab moral untuk
mentransformasikan keilmuan dan keterampilan kepada pihak lain, tetapi kepada
sebagian orang telah dijadikan ladang bisnis yang dapat mendatangkan
keuntungan.
Pada akhirnya sumber daya manusia
yang terdidik dapat mengantisipasi segala permasalahan yang ada dan mencarikan
pemecahan yang tepat. Maka dengan demikian usaha-usaha pendidikan dapat
merupakan upaya untuk menanggulangi kemiskinan.
3. Mendorong Investasi
Salah satu faktor produksi adalah
modal bersama-sama dengan sumber daya alam dan manusia, modal menentukan
tingkat produksi. Untuk meningkatkan investasi ini perlu partisipasi pemilik
dana agar mereka mau mempergunakan jasa perbankan atau lembaga keuangan
lainnya, agar dana yang dipunyainya dapat produktif, atau menginventasikan pada
bidang usaha-usaha yang menguntungkan. Dari investasi yang ditanam itu akan
dihasilkan barang dan jasa yang diperlukan.
C. Sebagai Ancaman bagi Manusia
Dalam pengalaman sejarah manusia,
dikenal pula gejala-gejala kelelahan budaya. Manusia mendambakan kehidupan
bangsa primitif yang penuh dengan ritus, adat, dan hiasan. Manusia mulai jemu
dengan budaya yang serba melelahkan dan ingin nikmat secara alami. Sekalipun
bangsa primitif pun juga memiliki budaya, hal itu tak begitu rumit dan melelahkan
manusia. Kadang-kadang orang mengira bahwa semakin maju budayanya, semakin
banyak dosa yang dibuat. Sebaliknya, semakit primitif budaya itu, semakin suci.
Rosseau mengajak manusia kembali pada alam (1750). Karena alam merupakan
sesuatu yang ideal yang harus semakin didekati dan dicapai oleh manusia.
Dalam dunia modern bermunculan
kecenderungan manusia, misalnya kaum hippies dan kaum ala Rendra untuk
melarikan diri dari budayanya dan kembali ke alam. Sehubungan itu, Klages menulis, budaya
merupakan bahaya bagi manusia sendiri. Peradaban, pabrik asap, udara yang penuh
bunyi, kota yang kotor, hutan yang
semakin gundul, dan sebagainya, menurut Klages merupakan akibat dari budaya.
Klages juga menyimpulkan bahwa manusia memang tak dapat hidup tanpa budaya yang
memuat ancaman bagi dirinya sendiri itu, berpikir untuk mengerti dan mengamati
tak dapat dilepaskan dari diri, sedangkan hidup secara alami yang penuh dengan
berbagai jenis mistik hanya dapat diperoleh di luar bidang keberadaannya
sebagai manusia.
Masalah yang dihadapi negara dalam
proses Akulturasi dan Inkulturasi Budaya
Arus globalisasi telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi menimbulkan kecenderungan yang mengarah pada memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri. Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Indonesia merupakan salah satu bangsa yang mempunyai nilai-nilai budaya dasar yang sangat kental dan tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu dampak dari proses Akultutasi dan Inkulturasi budaya yang paling dirasakan adalah bergesernya nilai-nilai budaya lokal ke arah budaya barat.
Arus globalisasi telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi menimbulkan kecenderungan yang mengarah pada memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri. Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Indonesia merupakan salah satu bangsa yang mempunyai nilai-nilai budaya dasar yang sangat kental dan tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu dampak dari proses Akultutasi dan Inkulturasi budaya yang paling dirasakan adalah bergesernya nilai-nilai budaya lokal ke arah budaya barat.
Hal lain yang menjadi masalah bagi
negara dalam proses Akultuasi dan Inkulturasi adalah rendahnya pemahaman dalam
pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu budaya
bangsa).
Gaya berpakaian remaja Indonesia
yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah kearah barat. Ada
kecenderungan bagi remaja memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan
bagian tubuh tertentu. Budaya ini diadopsi dari film-film maupun berbagai media
lainnya yang ditransformasikan barat ke dalam masyarakat Indonesia. Peran Agama
dalam menyikapi proses Akulturasi dan Akulturasi Budaya Bangsa Agama memiliki
makna sebagai ajaran yang membebaskan dan memberikan pencerahan (enlightenment)
kepada umat manusia. Agama hadir dalam rangka merespon masalah/sesuatu yang
menyimpang dalam masyarakat. Dalam menghadapi arus globalisasi budaya, perlu
adanya penguatan religiusitas/pemahaman nilai-nilai keagamaan. Agama memiliki
“tanggung jawab sosial” (global responsibility) untuk menyelesaikan berbagai
problematika yang terjadi ditengah masyarakat multikultural seperti Indonesia.
D.
Budaya
Membutuhkan Etika
Menurut Carvin, di dalam alam maupun budaya
tersembunyilah bahaya, dalam menelaah alam dan budaya, manusia menemukan unsur
dosa melihat di dalamnya. Sambil hidup di dalam budaya manusia pun mengambil
jarak dari budaya tersebut. Inilah yang dalam bahasa Jerman disebut innerweltliche
askese (bertapa dalam dunia). Dengan demikian, seorang Calvin’s mengenal dan
menjalani askese, tak menarik di alam dunia. Calvin sendiri masih mengakui
bahwa seni itu penting bagi kehidupan manusia, tetapi penangananya harus
dilakukan dengan cara sederhana saja.
Sehubungan dengan itu Hoenderdaal menyimpulkan bahwa
budaya itu bagaimanapun merupakan bagian dari kehidupan manusia, baik sebagai
hal yang berharga sehingga harus dikerjakan, maupun sebagai yang tak berharga
sehingga harus dijauhi. Budaya harus kita dekati tetapi jika kita gegabah
memandangnya, hal itu akan mengancam kelestarian kita sendiri. Budaya di
samping membawa kemuliaan, juga membawa laknat.
Budaya
manusia dapat menaklukkan alam, tetapi budaya juga dapat merusak alam. Alam dan
budaya meruyapakan dua kutub yang saling memerlukan dan memberi ruang kehidupan
bagi manusia. Budaya yang meluas dan meningkat seperti halnya yang terdapat
pada ilmu cenderung membahayakan manusia sendiri yang menciptakannya. Ekspansi
yang hebat dari teknik menghasilkan imprealisme teknik mengancam budaya susila.
Contohnya, perkakas yang semula merupakan perpanjangan tangan manusia, kemudian
meyebabkan munusia malah cenderung menjadi perpanjangan perkakasnya, sehingga
budaya dengan itu mengancam manusia. Hoenderdaal menunjukkan bahwa dimasa
sekarang kita dapat menghayati dua jenis ketidakmanusiawian itu sekaligus.
Seorang manusia dengan tata kerja robot dapat sekaligus hidup secara teknik dan
etis pula. Untuk berkembangnya ruang hidup yang manusiawi, tak dapat ditempuh
jalan yang mengagumkan budayawi saja ataupun yang dialami saja. Kedua-duanya
harus ditempuh bersama, yakni alam dan budaya dimana budaya itu sendiri tak
boleh ditumbuhkan dengan teknik, tetapi harus dihayati dalam cakupan ilmu,
etika dan seni. Sehubungan dengan itu, filosof Perancis Albert Schweizer pernah
mengatakan bahwa pengembangan budaya tanpa etika pasti membawa kehancuran. Oleh
sebab itu dianjurkan agar kita memperjuangkan mati-matian unsur etika dalam
mendasari budaya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian-uraian sebelumnya, maka
dapat diketahui bahwa kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai
kesempurnaan hidup. Segala sesuatu yang diciptakan manusia baik yang konkrit
maupun yang asbtrak, itulah kebudayaan. Budaya juga merupakan hasil olah cipta,
rasa dan karsa manusia untuk memenuhi hajat dalam kehidupannya. Budaya ada
sejak manusia ada di muka bumi ini. Oleh karena budaya didorong oleh hajat
kehidupan, maka budaya satu bangsa dengan bangsa lainnya memiliki perbedaan.
Budaya hendaknya mengarahkan dan
membawa manusia menuju kepada sarana kemajuan, bukan sebaliknya. Hendaknya
pula, budaya menjadi sebuah pendorong kepada kemajuan bukan sebaliknya sebagai
ancaman bagi kehidupan. Dengan demikian, perlu diperhatikannya faktor etika
dalam budaya tidak sekedar faktor estetika.
B.
Saran
Kebudayaan merupakan
kebudayaan yang terbentuk dari berbagai macam etnik, suku dan agama sehingga banyak tantangan
yang selalu merongrong keutuhan budaya itu tapi dengan semangat keanekaragaman sampai
sekarang masih eksis dalam terpaan zaman. Kewajiban kita sebagai mahasiswa untuk tetap
mempertahankannya budaya itu menuju masa
depan yang
abadi, luhur, makmur dan bermartabat.
DAFTAR PUSTAKA
Haricahyono, Cheppy. 1989. Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional.
Mawardi,
Drs., Hidayati, Nur, Ir. 2004. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Budaya Dasar, Ilmu
Budaya Dasar: Untuk IAIN, STAIN, PTAIS Semua Fakultas dan Jurusan, Komponen
MKU. Bandung: Pustaka Setia.
Mustopo,
M. Habib, dkk. 1983. Manusia dan Budaya, Kumpulan Essay Ilmu Budaya Dasar.
Surabaya: Usaha Nasional.
Widagdho,
Djoko, Drs., dkk. t.t. Ilmu Budaya Dasar Untuk Perguruan Mahasiswa Tinggi:
Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Jakarta: Bumi Aksara.

Hai,,, POstingan ini buat Sobat Semua...
ReplyDeleteTIngaktkan terus Postingannya Bro,,,;''' Gue sangat Butuh.....
ReplyDelete